Ramadhan #16 : Menjadi Dekat

kurniawangunadi:

Tulisan ini adalah tulisan yang sedianya menjadi tulisan 16/30 selama bulan ramadhan 1435 H. Kesibukan beberapa hari ini membuat saya tidak bisa menulis dengan baik. Semoga tetap istiqamah dan bermanfaat.

Coba kita duduk sebentar kemudian berpikir. Coba sadari. Ada satu hal yang mungkin selama…

Habis UN

Alhamdulillah, beres juga satu ujian ini.

Rasanya lega, beban di pundak agak lebih ringan. Hehe!

Tapi juga sekaligus menyesal -_- ehm, soalnya agak susah. Agak menyimpang dari SKL yang selama ini dipelajari. Coba kalo latihan buku UN dari kelas 10 ya… pasti master banget pas UN :3 penyesalan memang selalu datang belakangan. Menyertai setiap langkah perjuangan.

Kesan selama UN :

Day 1 Bahasa Indonesia dan Biologi. Alhamdulillah lancar, nggak terlalu gimana. Ciee kertas LJUN nya tebal! Nggak kayak kertas gorengan tipis yang digadang-gadang kakak kelas risiko sobeknya 90% waktu menghapus jawaban yang salah. Oh iya, dikasih pensil ujian gratis, kenapa nggak sama penghapus ujiannya juga ya? :)

Day 2 Matematika dan Kimia. Luar biasa! Soal matematikanya out of the box. 15 menit terakhir masih ada 8 soal belum terjawab. Bismillah aja deh pas 5 menit terakhir. Milih jawaban dengan cara melototin soal, mana jawabannya mana! Tunjukkan dirimu! -_- Kimianya juga aduhai. Belajar rumus banyak-banyak, soal hitungan sampai muak, ternyata yang keluar teori abstrak. Yang jawabannya berupa kata-kata dan kalimat. Berasa mengerjakan soal pengetahuan umum :| Pulangnya, semangat berkata “Sehari lagi ayo semangaaat!” ke semua teman.

Day 3 Last day! Teman-teman di twitter berkicau ramai. Hari ini Bahasa Inggris dan Fisika. Jreng, pengawasnya lucu. Intermezzo santai dulu sebelum ujian haha. Mulai mengerjakan soal dari jam 7.30, Listening jam 8 dan tepat pukul 8 kurang 15 saya ketiduran. Dibangunkan pengawas lucu tadi, katanya : “mau ke air dulu nggak?” saya gelagapan sambil nyengir “nggak pak hehe” kemudian beliau bilang “kelihatan ya mana yang belajar semalam suntuk dan yang cukup tidur. (anak sekelas tertawa) Tapi kalo mau tidur ya, LJUNnya disingkirkan dulu. Takut rusak” Malu, euy. Malu banget. Ujian kedua fisika. HAHAHA pasrah. Soal-soalnya bagus. Keren. Tipe soal yang ketika dibahas guru les, mereka berkata “Aaah, soal kayak gini mah nggak mungkin keluar di Ujian Nasional. Kalo SBMPTN, baru. Ujian Nasional mah gampang” Yoi sip banget dah. Itu mata pelajaran terakhir ujian dan hikshikshiks banget. Semoga nilainya lebih dari cukup. Aamiin. Yes. Selesaaaai! 3 hari penuh kejujuran. Semoga Nilai yang dihasilkan menjadi berkah. Aamiin lagi. Banyak yang bilang kunci ini tembus, ini nggak. Semoga yang pake kunci jawaban, bisa survive ya nanti. Aamiin.

Nilainya bakal jelek dong kalo nggak bisa ngerjain soal UN? Saya pribadi sudah menyiapkan mental dari awal, awal banget persiapan ujian. Bagus dan tidaknya suatu nilai biarlah menjadi keputusan Allah semata. Meski (mungkin) pada akhirnya saya juga bisa lemah mental lihat nilai diluar perkiraan. Seenggaknya itu nilai jujur, jujur usaha keras selama 3 tahun. (Meski banyak juga diluar sana yang jujur dan punya nilai cemerlang) :D

Terus nasib cita-cita? Entah, rezeki mah nggak bakal kemana. Jangan takut, selama masih berusaha dan berdoa. Saya nggak mau dikendalikan oleh sistem lagi, Cukup 3 tahun silam saya begitu runyam menghadapi hidup hanya karena tunduk pada sistem. Sistem yang juga memaksa teman-teman saya  pake kunci jawaban saat mengerjakan ujian dan membiarkan kemampuan mereka tak dihargai. I wanna be myself. Mengeksplorasi kemampuan yang saya punya itu nggak sama dengan duduk diam di kelas, memerhatikan guru, nilai tugas dan ujian selalu bagus. Sementara tidak setiap guru yang mengajar, mengajari apa yang saya ingin pelajari. Hehe, susah rasanya belajar kalo nggak minat ya?

Yang penting nilai sehari-hari masih di ambang batas kewajaran untuk dimaklumi orangtua, kalo ini memang kewajiban. Membahagiakan orangtua itu wajib :) 

Jadi, habis UN? Mau menuntaskan apa yang belum sempat dituntaskan! Waktu tetaplah waktu, umur siapa yang tau. 

Cara menasehati seseorang paling baik adalah ketika seseorang itu memang siap menerima nasehat itu. Menasehati saat seseorang sedang tidak siap menerima, itu sama seperti melakukan penghakiman kepadanya.

Juga ingat, nasihat terbaik disampaikan secara diam-diam kepada orang tersebut. Bukan di depan umum.

Ditambah, tidak perlu menjadi orang paling baik dan paling sempurna dulu untuk menjadi orang yang memberi nasehat. Bila orang harus baik dulu baru boleh memberi nasehat, niscaya tidak akan pernah ada nasehat di dunia ini.

Saling mengingatkanlah dengan cara yang baik :)

faldomaldini:

Memang beda: Kedatangan Bu Risma vs Anggota DPR
Saya kira awalnya semua pejabat negara yang pergi ke luar negeri selalu dianggap buang-buang uang. Seperti halnya bagaimana anggota DPR RI yang selalu ditolak “secara halus” (walau tak jarang juga secara kasar) saat kunjungan ke berbagai negara. Kita tentu masih ingat bagaimana teman-teman mahasiswa Indonesia (beserta) warga “mengerjai” anggota DPR yang datang ke luar negeri.
Off the record: *Bahkan tak jarang KBRI sendiri sebenarnya ingin menolak kedatangan anggota DPR.
Namun, pejabat negara yang satu ini memang beda. Kehadirannya dinanti dan antusiasme warga menyala ketika dikabarkan beliau akan datang ke Inggris. Responnya sangat jauh berbeda jika dibandingkan respon info datangnya anggota DPR. Semua orang ingin sekali hadir dan berjumpa dengannya. Ya pejabat negara nan sederhana itu bernama Bu Risma, walikota Surabaya.
Bu Risma insyaAllah akan berbagi dengan WNI di UK hari kamis ini. Beliau datang karena menerima penghargaan yang (entah untuk keberapa kalinya) sebagai walikota terbaik di level internasional. Ibu yang satu ini memang terkenal dengan kinerjanya membangun kota.
Well, memang pada akhirnya orang yang bekerja dengan baik, benar dan berikan perubahan nyata akan dinanti kehadirannya. Tentu ini berbeda dengan orang yang kinerjanya ga jelas dan ga nyata.

faldomaldini:

Memang beda: Kedatangan Bu Risma vs Anggota DPR

Saya kira awalnya semua pejabat negara yang pergi ke luar negeri selalu dianggap buang-buang uang. Seperti halnya bagaimana anggota DPR RI yang selalu ditolak “secara halus” (walau tak jarang juga secara kasar) saat kunjungan ke berbagai negara. Kita tentu masih ingat bagaimana teman-teman mahasiswa Indonesia (beserta) warga “mengerjai” anggota DPR yang datang ke luar negeri.

Off the record: *Bahkan tak jarang KBRI sendiri sebenarnya ingin menolak kedatangan anggota DPR.

Namun, pejabat negara yang satu ini memang beda. Kehadirannya dinanti dan antusiasme warga menyala ketika dikabarkan beliau akan datang ke Inggris. Responnya sangat jauh berbeda jika dibandingkan respon info datangnya anggota DPR. Semua orang ingin sekali hadir dan berjumpa dengannya. Ya pejabat negara nan sederhana itu bernama Bu Risma, walikota Surabaya.

Bu Risma insyaAllah akan berbagi dengan WNI di UK hari kamis ini. Beliau datang karena menerima penghargaan yang (entah untuk keberapa kalinya) sebagai walikota terbaik di level internasional. Ibu yang satu ini memang terkenal dengan kinerjanya membangun kota.

Well, memang pada akhirnya orang yang bekerja dengan baik, benar dan berikan perubahan nyata akan dinanti kehadirannya. Tentu ini berbeda dengan orang yang kinerjanya ga jelas dan ga nyata.

Happy birthdaaay @friscarahma & @rodifa_na ! Semoga lulus UN dengan nilai bagus, sukses SNMPTN, SBMPTN! <3

Happy birthdaaay @friscarahma & @rodifa_na ! Semoga lulus UN dengan nilai bagus, sukses SNMPTN, SBMPTN! <3

Kotak suara sudah mulai dibuka segelnya dan dikeluarkan isinya l TPS 18 Kecamatan Andir Kelurahan Garuda #LiveReport #Pemilu2014

Kotak suara sudah mulai dibuka segelnya dan dikeluarkan isinya l TPS 18 Kecamatan Andir Kelurahan Garuda #LiveReport #Pemilu2014

Yang Hilang Sewaktu-Waktu

Karena aku mencintai yang sewaktu-waktu pergi, yang sewaktu-waktu diambil. Aku belajar bagaimana caranya melepaskan. Aku belajar bagaimana menyikapi kepergian.

Aku belajar mengosongkan diri dari apapun yang memenuhi. Hingga setiap ruang dalam hati terasa lebih lapang dari biasanya. Lalu…

Intermezzo Fisika

Tugas guru tak hanya mengajar, tapi mendidik.

Hari ini jam pelajaran pertama dan kedua diisi oleh mata pelajaran fisika. Setiap ada pertanyaan soal dari kami, guru saya selalu bilang

"Soal fisika itu tidak ada yang sulit ya, ini soal gampang. Fisika itu mudah"

Entah karena jargon tersebut yang selalu diulang-ulang ketika kami bertanya atau memang karena pembawaannya yang enjoy dalam mengajar, setiap soal fisika yang rumit jadi terasa mudah dan menyenangkan untuk diselesaikan :)

Ditengah-tengah pembahasan soal fisika, ada intermezzo unik yang disampaikan beliau. Soal beban dunia akhirat yang ditanggung para guru ketika memberi nilai akhir untuk kami—anak didiknya. Seringkali karena sistem standardisasi yang memaksa, mereka melakukan pemakluman besar-besaran terhadap apa yang sudah kami kerjakan. Yang salah-salah dikit diberi nilai agak bagus, yang salah agak banyak diberi nilai bagus, yang salah banyak sekali? saya nggak tahu, hehe. Yang jelas banyak sekali pertimbangan saat memberi nilai akhir hingga hasil akhirnya itu nggak jeek-jelek banget dan sesuai standar.

Namun diantara nilai-nilai yang beliau ridhoi untuk diberikan kepada kami, tetaplah ada saat-saat dilema tatkala memutuskan nilai standar untuk salah seorang muridnya, yang konon katanya paling dia tidak suka.

Dia perempuan, dengan beraninya merokok di depan saya, pelukan dengan laki-laki di depan mata saya, Padahal di kelas selalu tidak memperhatikan, ulangan tidak pernah lulus.  Saya masih bisa maklum seandainya memang kemampuan dia hanya segitu. Nggak bisa lagi dipaksa. Jadi orang pintar ya memang susah, nggak semua orang bisa jadi pintar. Tapi apa susahnya jadi orang baik? Apa susahnya menjaga sikap selama di sekolah? Yah barangkali di depan saya minimal manis, di luarnya nggak tahu kayak apa. Urusan dia lah.

Saya melongo, sebegitunyakah? Lantas nasib anak itu bagaimana?

Ya Allah, sesungguhnya saya sama sekali tidak ridho, memberikan nilai standar pada anak ini. Tapi mau bagaimana lagi? Saya tidak mau anak ini tidak lulus hanya karena saya memberinya nilai dibawah standar kelulusan. Saya terpaksa. Sungguh!

Meski tidak suka, tidak ridho, mau tak mau ternyata beliau memberikannya nilai standar. Miris memang, kenyataan dalam proses pendidikan disini. Standar kelulusan menjadi acuan utama dalam menilai berhasil-tidaknya seorang anak melalui proses belajar di sekolah, sekaligus (katanya) indikator keberhasilan suatu sekolah. Semakin banyak anak yang lulus (apalagi dengan nilai bagus), sekolah dianggap berkualitas tinggi. Padahal nilai yang tertera di kertas selembar-selembar dengan kop sekolah itu belum tentu menjamin kehidupan yang kelak akan dijalani sang anak didik. 

Entah harus bagaimana, kami masing-masing kembali sibuk dengan pemecahan soal-soal fisika. Bertanya soal yang sulit. Mendengar jargon yang itu-itu lagi. Melupakan sejenak masalah sistem—apalah itu. Hingga bel berbunyi, mengakhiri jam untuk mata pelajaran fisika. 

100% true :))

100% true :))